Article Detail

Sun Go Kong adalah salah satu tokoh utama dalam salah satu novel klasik Tiongkok "Shi You Ji" "Perjalanan ke Barat" karya Wu Cheng-en pada masa Dinasti Ming yang kemudian populer selama berabad-abad lamanya baik di dalam maupun di luar Tiongkok.

Riwayat Sun Go Kong secara sekilas memiliki tinggi badan 1.33 meter, pada umur 320 tahun ia menuju Gunung Hua Guo, menjadi dewa dengan gelar "Qi Tian Da Sheng" pada umur 357 tahun. 180 tahun kemudian, karena suka membangkang, ia dihukum ditimpa di bawah Gunung Wu Sing selama 500 tahun. Setelah itu, ia berguru kepada Pendeta Tong dan menjalankan perintah untuk mengawal Pendeta Tong mengambil kitab suci ke India. Ia dikisahkan adalah perwujudan dari sebuah kera batu.

Legenda Sun Go Kong ini bermula di Benua sebelah Timur. Disana, di atas Gunung Bunga Buah, ada sebuah batu ajaib. Sejak masa awal penciptaan, batu ini telah menyerap saripati dari langit, bumi , dan bintang-bintang. Dengan berlalunya waktu selama berabad-abad, batu ajaib ini, perlahan-lahan, tumbuh menjadi sebuah telur batu yang tiba-tiba meledak terbuka, dan lahirlah.... seekor kera! Pada awalnya, kera ini hidup bersama kera-kera biasa lainnya di Gunung Bunga Buah, sampai suatu hari dia menampakkan keberanian dan kebijakannya dengan melompat melewati air terjun dan menemukan, di belakang air terjun itu, terdapat sebuah gua istimewa. Kera-kera lain mengikutinya ke dalam gua dan hidup di sana, menobatkannya sebagai Raja Kera mereka. Dari beberapa sumber tidak ada yang tau pasti tahun berapa Sun Go Kong tercipta.

Sun Go Kong menyadari bahwa dirinya masih akan mengalami kematian meskipun ia berkuasa atas monyet-monyet yang lain, maka Sun Go Kong berniat untuk mencapai keabadian. Ia berkelana dengan rakit ke wilayah-wilayah beradab lalu menemui dan menjadi pengikut Bodhi, salah satu guru Buddhisme/Taoisme. Oleh karena itu, Wukong mempelajari seni bertutur-kata dan budi pekerti manusia.

Pada mulanya, Bodhi enggan menerima Wukong sebagai pengikutnya karena Wukong bukanlah manusia. Namun, karena kegigihan dan ketabahan Wukong, Bodhi menjadi tertarik kepada monyet itu dan memberinya nama resmi Sun Wukong ("Sun" menunjukkan asal-usulnya sebagai monyet dan "Wukong" membawa pengertian sadar akan kekosongan). Tidak lama kemudian, minat dan kecerdasan Wukong menjadikannya salah satu pengikut kesayangan Bodhi. Bodhi membimbing dan melatihnya berbagai ilmu sakti dan Wukong menguasai ilmu perubahan bentuk yang dikenal sebagai "72 perubahan". Ilmu itu membuat yang menguasainya dapat berubah wujud dalam berbagai bentuk yang memungkinkan, termasuk manusia dan barang. Wukong juga belajar perjalanan awan, termasuk teknik Jīndǒuyún (bersalto di atas awan) yang dapat mencapai 108,000 li (54,000 km). Ia juga dapat mengubah setiap bulunya yang berjumlah 84000 menjadi barang dan makhluk, atau mengkloningkan dirinya. Wukong menjadi terlalu angkuh karena kemampuannya dan mulai berbicara angkuh dengan murid-muridnya yang lain. Hal itu membuat Bodhi tidak senang kemudian mengusirnya dari kuil. Sebelum mereka berpisah, Bodhi mengarahkan Wukong supaya berjanji tidak akan memberitahu siapapun tentang bagaimana dia mendapatkan ilmu tersebut.

Setelah meninggalkan gurunya, Sang Kera, yang selalu saja nakal, membuat para dewa jadi tidak menyukainya. Dia mengacau Istana Naga di Laut Timur, meminta baju besi dan senjata istimewa (yang kemudian dikenal sebagai gada ajaib, ciri khas bawaannya). Dia bahkan turun ke bawah dunia dan meneror Raja Neraka. Merasa jengkel, para dewa terbang ke langit untuk menuliskan sebuah keluhan formal kepada Maharaja Giok. Berharap untuk mencegah supaya kera ini tidak menyebabkan gangguan lebih jauh, Maharaja Giok menganugrahkannya gelar yang muluk, yaitu Pelindung Kuda-kuda dan Kandang Kuda Kerajaan. Sang Kera awalnya bisa ditenangkan. Tapi ketika dia tahu bahwa dia bukan apa-apa selain tukang pemelihara kuda, dia lalu memberontak.

Akhirnya, Sang Buddha menantang Sun Wukong – Sang Kera harus berada dalam tangan Buddha dan kemudian melompat keluar dari situ. Sangat mudah bagi Sang Kera yang bisa bergerak puluhan ribu mil dalam sekali salto. Tapi Sang Kera telah menemukan tandingannya dan tidak mampu mengalahkan kesaktian Buddha. Ketika Sang Kera terbang ke tempat yang dia pikir sebagai ujung alam semesta, dia menemukan lima buah pilar dan kemudian buang air kecil di sana, untuk memberi tanda di tempat itu sebagai bukti. Kemudian dia terbang kembali, bersiap untuk menyombongkan kemampuannya. Namun yang sesungguhnya terjadi adalah, Buddha telah mengubah bentuk tangannya, dan kelima pilar itu sebenarnya adalah jari-jarinya. Sang Kera, pada kenyataannya, tidak pernah meninggalkan telapak tangan Buddha. Kemudian Buddha mengurung Sang Kera d ibawah sebuah gunung, di sana dia menjadi tawanan selama 500 tahun.

Terdapat banyak versi cerita menurut ahli sastrawan namun kera sakti Sun Go Kong diyakini adalah perpaduan antara kepercayaan, cerita rakyat dan kreasi daripada penulisnya sendiri yaitu Wu Cheng-en.

Jadi, Menurut Anda Sun Go Kong adalah tokoh fiksi, dewa mitologi cerita rakyat atau kisah nyata sesungguhnya?

Semoga Bermanfaat. Share agar dibaca oleh yang lain. Terima Kasih

 

www.viriyashop.com (Spesialis Produk Kebijaksanaan dari Timur)

*Dicuplik dari berbagai sumber

Leave a comment

Comments have to be approved before showing up